Laporan dari Wina: Indonesia Meriahkan Wiener FestWochen

Selalu ada cara yang dilakukan pemerintah Austria untuk menyedot wisatawan ke negeri ini. Selain gencar mempromosikan Austria sebagai tujuan wisata musik klasik dan wisata pegunungan, nampaknya negara ini juga ingin menunjukkan eksistensinya sebagai tujuan wisata kuliner.

Meskipun potensi kuliner Austria tidak seberapa dibanding kekayaan makanan Indonesia, namun tampaknya pemerintah setempat tidak kekurangan akal. Selama dua hari dua malam, pemerintah kota Wina menggelar acara festival masakan dari berbagai penjuru dunia dalam rangkaian acara Wiener FestWochen 2009.

Wiener Festwochen merupakan festival budaya yang diadakan sekali setahun, mirip dengan Festival Kesenian Yogyakarta, namun dengan skala peserta international.

Stand-stand makanan dari berbagai negara bertebaran di jalan jalan utama kota Wina, pada tanggal 23-24 Mei 2009 lalu. Tidak pula ketinggalan stand dari Indonesia. Bersama stand dari negara Asia lainnya ditempatkan di jalan Gumpendorfer Strasse yang sudah disulap namanya menjadi menjadi Asian Village. Di Asian Village ini pengunjung bukan hanya disuguhi masakan khas, namun juga kesenian dari masing masing negara, seperti pentas tari, pertunjukan musik hingga pemutaran film.

Di stand makanan, menu sate dan bakso sepertinya menjadi menu primadona. Pengunjung sampai harus antre untuk bisa mencicipi sate bumbu kacang yang dibanderol dengan harga 1 Euro pertusuk. Bau aroma sate dari asap yang mengepul nampaknya berhasil menyedot pengunjung, walhasil stand dari Indonesia terlihat paling ramai dibanding negara lain. Selain sate dan bakso, pengunjung juga bisa menikmati jajanan pasar khas lainnya, seperti bakwan dan risoles.

Dari panggung kesenian, Indonesia mengerahkan orkestra karawitan lengkap yang digawangi oleh Group Gamelan Ngesthi Budoyo-Austria. Sementara untuk hari kedua, 11 penari penari cilik dari kelompok Gema Puspa Nusantara mempersembahkan Tari Rantak, Tari Merak dan Tari Renggong Manis.

Dan tentu saja berjubelnya pengunjung di stand Indonesia, dan apresiasi terhadap kesenian daerah Indonesia, cukup menjadi bukti betapa besar potensi khazanah kekayaan  Indonesia, yang mungkin selama ini belum tergarap secara maksimal.

 

diambil dari tulisan Rangga Almahendra di DETIK.COM